Kebanggaan tersendiri bagi saya yang telah diberi
kesempatan untuk menjadi pengisi ‘perdana’ blog Forum Aliansi Pemuda Mahasiswa
bengkulu ini. Sebenarnya apa yang saya tulis disini, bukan sepenuhnya berupa
materi. Namun serupa artikel yang berisi sedikit penjabaran mengenai salah satu
materi yang ada di Forum Aliansi Pemuda Mahasiswa.
Saya mohon maaf apabila dalam penulisan tersebut,
ada kata-kata yang tidak sesuai penempatan dan fokusnya. Kritikan dan saran
dari pembaca, siap saya tampung. Silahkan isi komen’nya. ^^
Salam Pemuda!!
Salam Mahasiswa!!
FILSAFAT
Filsafat adalah ilmu berpikir, yang menurut
pengetahuan sebagian besar orang adalah induk dari segala ilmu pengetahuan.
Tapi tahukah Anda makna sesungguhnya dari “mother of science” tersebut?
Tujuan
dan mindset yang terkandung dalam pengertian filsafat yang sesungguhnya adalah
“mencari kebenaran dari kebenaran untuk
kebenaran”. Sangat jarang didengar bukan? Tapi inilah makna yang
sesungguhnya dari filsafat selaku membawa perannya sebagai mother of science.
Pemikiran yang jarang diketahui oleh kalangan cendikiawan.
Mencari
kebenaran, sudah merupakan kebutuhan yang bisa disebut juga tugas bagi
manusia yang hendak berpikir. Karena melalui berpikir, manusia akan terus
mencari kebenaran dari apa yang ada dalam pemikirannya itu. Artinya didalam
kehidupan ini manusia telah diperintahkan untuk berpikir, sesuai dengan salah
satu firman-Nya, “Aku ada diantara orang-orang yang berpikir”.
Namun
apakah semua yang telah didapatkan manusia dalam proses pemikirannya itu
merupakan hal yang benar? Apakah jika ia berpikir tentang mencari kebenaran itu
juga merupakan hal yang sudah benar?
Maka
dari itu, hendaklah mencari kebenaran itu dari kebenaran. Dapatkanlah intisari
dan esensi yang sesungguhnya dari suatu kebenaran, sehingga tidak akan ada
suatu sikap penyesalan dan merugi terhadap proses menuju kebenaran itu sendiri.
Dalam artian, eksistensi suatu kebenaran juga harus dikupas secara mendalam agar
semua kebenaran yang terpampang itu
memang merupakan suatu kebenaran adanya.
Berpikir merupakan hal yang tak
luput dari eksistensi manusia. Karena dengan berpikir, itu akan menunjukkan
eksistensi manusia dalam kehidupan nyata. Namun memunculkan eksistensipun
tidaklah cukup hanya dengan berpikir mengenai hal kebenaran. Pergunakanlah
kebenaran yang benar itu untuk kebenaran.
Sehingga kebenaran yang telah
diperoleh dari kebenaran dapat menempati eksistensinya yang dalam hal ini yaitu
untuk kebenaran. Karena kebenaran yang didiamkan hanya untuk diketahui saja,
akan menghilang seiring dengan eksistensinya yang telah dibangun, walaupun
esensi dari kebenaran itu sendiri mungkin akan selalu ada. Namun esensi itu
akan kehilangan ruangnya tersendiri dari yang nyata ini. Kecuali adanya
tindakan untuk menyalurkan kebenaran yang diperoleh dari kebenaran tadi untuk
kebenaran pula. Dengan begitu sang kebenaran akan selalu nyata esensi serta
eksistensinya didalam kehidupan ini. Karena untuk hal inilah kebenaran ada. Yaitu
untuk ditempatkan pada tempatnya yang sesuai.
Lantas, bagaimanakah menempatkan
kebenaran yang dari kebenaran untuk kebenaran itu? Dan apakah cara kita
meletakkannya tersebut tidak akan lepas dari ketidakbenaran?
Banyak sekali pertanyaan yang menyulitkan, dan
hal ini jugalah yang terkadang membuat sebagian besar orang enggan untuk
“memperdulikan” hal terkait kebenaran itu. Lebih mudah untuk berjalan dengan
berkelok-kelok daripada harus membawa kebenaran itu ke jalan lurus ditengah
arus sesat yang menggoda. Karena itu terkadang banyak kebenaran yang tidak
dapat sampai di tempat seharusnya dengan utuh dan selamat. Dalam artian, sulit
sekali menempatkan kebenaran untuk kebenaran itu. Belum lagi bagi orang-orang
yang mau berpikir, terkadang masih dapat terselimuti oleh kabut sifat hedonis, oportunis, maupun apatis. Sungguh sikap yang harus
dilepaskan dan dihindari semaksimal mungkin demi mencegah tercemarnya kebenaran
itu. Untuk mendapatkan pedoman dan pegangan, bergurulah kepada orang-orang yang
sadar agar bisa mendapatkan mkana kebenaran sejati. Yang sejati itu tetap
datangnya dari Yang Kuasa.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar