APM Picture

  • Replace This Text With Your Featured Post 1 Description.
  • Replace This Text With Your Featured Post 2 Description.
  • Replace This Text With Your Featured Post 3 Description.
  • Replace This Text With Your Featured Post 4 Description.

Rabu, 17 April 2013

FILSAFAT


Kebanggaan tersendiri bagi saya yang telah diberi kesempatan untuk menjadi pengisi ‘perdana’ blog Forum Aliansi Pemuda Mahasiswa bengkulu ini. Sebenarnya apa yang saya tulis disini, bukan sepenuhnya berupa materi. Namun serupa artikel yang berisi sedikit penjabaran mengenai salah satu materi yang ada di Forum Aliansi Pemuda Mahasiswa.
Saya mohon maaf apabila dalam penulisan tersebut, ada kata-kata yang tidak sesuai penempatan dan fokusnya. Kritikan dan saran dari pembaca, siap saya tampung. Silahkan isi komen’nya. ^^
Salam Pemuda!!
Salam Mahasiswa!!



FILSAFAT



Filsafat adalah ilmu berpikir, yang menurut pengetahuan sebagian besar orang adalah induk dari segala ilmu pengetahuan. Tapi tahukah Anda makna sesungguhnya dari “mother of science” tersebut?
            Tujuan dan mindset yang terkandung dalam pengertian filsafat yang sesungguhnya adalah “mencari kebenaran dari kebenaran untuk kebenaran”. Sangat jarang didengar bukan? Tapi inilah makna yang sesungguhnya dari filsafat selaku membawa perannya sebagai mother of science. Pemikiran yang jarang diketahui oleh kalangan cendikiawan.
            Mencari kebenaran, sudah merupakan kebutuhan yang bisa disebut juga tugas bagi manusia yang hendak berpikir. Karena melalui berpikir, manusia akan terus mencari kebenaran dari apa yang ada dalam pemikirannya itu. Artinya didalam kehidupan ini manusia telah diperintahkan untuk berpikir, sesuai dengan salah satu firman-Nya, “Aku ada diantara orang-orang yang berpikir”.
Namun apakah semua yang telah didapatkan manusia dalam proses pemikirannya itu merupakan hal yang benar? Apakah jika ia berpikir tentang mencari kebenaran itu juga merupakan hal yang sudah  benar?
Maka dari itu, hendaklah mencari kebenaran itu dari kebenaran. Dapatkanlah intisari dan esensi yang sesungguhnya dari suatu kebenaran, sehingga tidak akan ada suatu sikap penyesalan dan merugi terhadap proses menuju kebenaran itu sendiri. Dalam artian, eksistensi suatu kebenaran juga harus dikupas secara mendalam agar semua kebenaran  yang terpampang itu memang merupakan suatu kebenaran adanya.
            Berpikir merupakan hal yang tak luput dari eksistensi manusia. Karena dengan berpikir, itu akan menunjukkan eksistensi manusia dalam kehidupan nyata. Namun memunculkan eksistensipun tidaklah cukup hanya dengan berpikir mengenai hal kebenaran. Pergunakanlah kebenaran yang benar itu untuk kebenaran.
            Sehingga kebenaran yang telah diperoleh dari kebenaran dapat menempati eksistensinya yang dalam hal ini yaitu untuk kebenaran. Karena kebenaran yang didiamkan hanya untuk diketahui saja, akan menghilang seiring dengan eksistensinya yang telah dibangun, walaupun esensi dari kebenaran itu sendiri mungkin akan selalu ada. Namun esensi itu akan kehilangan ruangnya tersendiri dari yang nyata ini. Kecuali adanya tindakan untuk menyalurkan kebenaran yang diperoleh dari kebenaran tadi untuk kebenaran pula. Dengan begitu sang kebenaran akan selalu nyata esensi serta eksistensinya didalam kehidupan ini. Karena untuk hal inilah kebenaran ada. Yaitu untuk ditempatkan pada tempatnya yang sesuai.
            Lantas, bagaimanakah menempatkan kebenaran yang dari kebenaran untuk kebenaran itu? Dan apakah cara kita meletakkannya tersebut tidak akan lepas dari ketidakbenaran?
Banyak sekali pertanyaan yang menyulitkan, dan hal ini jugalah yang terkadang membuat sebagian besar orang enggan untuk “memperdulikan” hal terkait kebenaran itu. Lebih mudah untuk berjalan dengan berkelok-kelok daripada harus membawa kebenaran itu ke jalan lurus ditengah arus sesat yang menggoda. Karena itu terkadang banyak kebenaran yang tidak dapat sampai di tempat seharusnya dengan utuh dan selamat. Dalam artian, sulit sekali menempatkan kebenaran untuk kebenaran itu. Belum lagi bagi orang-orang yang mau berpikir, terkadang masih dapat terselimuti oleh kabut sifat hedonis, oportunis, maupun apatis. Sungguh sikap yang harus dilepaskan dan dihindari semaksimal mungkin demi mencegah tercemarnya kebenaran itu. Untuk mendapatkan pedoman dan pegangan, bergurulah kepada orang-orang yang sadar agar bisa mendapatkan mkana kebenaran sejati. Yang sejati itu tetap datangnya dari Yang Kuasa.

Tidak ada komentar: